Skip to main content

Blooming in Time (I)

 Pada suatu ketika, aku merasa kehilangan diriku sendiri. Aku kehilangan aku. Suamiku tidak kehilangan istrinya. Anakku pun tidak kehilangan ibunya. (Mungkin) ibuku pun tidak kehilangan anak perempuannya. Tapi aku kehilangan aku.

Mungkin aku kurang bersyukur, begitu kata orang-orang. Apalagi yang kuharapkan dalam hidup? Kehidupan layak, anak cerdas, suami setia, lingkungan kerja santai tapi gaji tetap ada. Apalagi yang kurang?

Namun sekali lagi, sekali pun aku tak hentinya bersyukur dengan apa yang tercurahkan dalam hidupku, aku tetap merasa kehilangan aku. Sekali lagi, aku kehilangan aku. Bukan seperti gembala yang kehilangan asu - kelimpungan menjaga ternaknya. Tidak.

Aku kehilangan aku.

Dan aku ingin menemukan di mana diriku tercecer. Mungkin terselip di sela-sela halaman novel dewasa yang belum tamat kubaca. Di sudut kamar bersama debu-debu yang luput tersapu. Di dinding kamar mandi yang belum kugosok lagi.

Aku ingin menemukan aku yang hilang. Sebelum ingatan tentangku juga kian pudar.

Comments

Popular posts from this blog

[Review] Posesif; dan Posesifitas Kita

Mungkin review film ini lumayan telat ya, karena film ini sudah tiga minggu nangkring di bioskop. Dan udah dapet tiga piala citra! Dua darinya untuk aktris dan pemeran pendukung pria, sementara yang satunya untuk sutradara. Niat nontonnya udah lama, cuma baru ada duit kesempatan kemarin huhu. Disclaimer lagi ya, review  film ini murni datang dari bangku penonton. Bukan dari kacamata kritikus film maupun ahli psikologi yang membantah premis-premis dalam film ini. - Baik, kita mulai dari alasanku menonton film ini di bioskop. Awalnya, aku tahu keberadaan film ini dari iklan trailernya yang wara-wiri di homepage  Youtube ku. First impression setelah nonton trailer -nya, adalah soundtrack -nya bagus, hehehe. Selain itu juga silver line  ceritanya boleh juga. Maka, jadilah hari Kamis yang berbahagia itu aku nonton sendirian di bioskop. Jujur saja, aku adalah penonton yang malas menonton film remaja di bioskop. Alasannya sederhana, aku merasa bahwa inti cerita fi...

Asimtot

Selamat pagi! Bagaimana tidurmu? Semoga tidak seperti tidurku. Beberapa hari ini aku selalu "pingsan" tertidur sekitar pukul 8 malam dan terbangun di dini hari. Jika ada beberapa orang yang mempunyai rutinitas sebelum tidur seperti membaca buku, cuci muka cuci tangan cuci kaki, dan lain-lain, aku juga punya. Beberapa malam terakhir rutinitas sebelum tidurku adalah menangis. Tidak pernah tidak tidur tanpa mata yang sembab, basah karena air mata. Begitu pula ketika aku bangun, beberapa menit kemudian mataku akan kembali basah. Iya, aku sedang sedih karena  satu dan lain hal yang lebih baik tidak aku jelaskan di sini. Cukup aku simpan sendiri saja. Jika ada orang bertanya pasti mereka menduga ini ada hubungannya dengan pacarku. Ya, memang ada. Apakah kami bermasalah? Tidak. Aku hanya merasa hubungan kami seperti asimtot; garis lurus yang didekati kurva lengkung dengan jarak yang semakin lama mendekati nol namun tidak pernah bersinggungan. Hanya mendekati dan tidak pernah bers...

Mau Kemana Kita?

Welcome to the jungle and enjoy the real life! Begitu kata orang-orang yang diucapkan saat wisuda kemarin. Jujur, waktu itu aku berpikir bahwa ' jungle ' yang dimaksud adalah dunia kerja yang segalanya gelap gulita karena pergi pagi pulang dini hari. Ya, intinya dunia kerja lah. Tapi setelah menjalani kehidupan paskawisuda, ternyata ' jungle ' itu tidak lain adalah pertanyaan-pertanyaan macam "Habis ini mau ke mana?" atau "Kamu daftar ke PT X ngga?" atau " Kowe sidane daftar kementerian endi ?" atau pertanyaan lain semacam itu. Rasanya kok setelah kuliah kita tidak punya tempat bernaung. Lucky me, and my  angkatan, tahun ini pemerintah membuka lapangan kerja di 63 instansi (gelombang 1 dan 2) sekaligus. Pemerintah sepertinya sedang membuka kran air dan disemprotkan kepada seluruh rakyat yang kekeringan. Jika menelisik lebih dalam lagi, apa motif pemerintah yang membiarkan rakyatnya kekeringan hingga penghujung 2017? Ingat ya, 2 tahun...