Skip to main content

Tentang Kereta

Dari semua moda transportasi yang pernah kunaiki, hanya kereta yang berkesan bagiku. Kereta tidak seperti mobil yang bisa berhenti berjam-jam lamanya di lampu merah. Kereta juga tidak sama dengan pesawat, meski lebih lambat kau akan melihat pemandangan indah dari dekat.
Aku rindu kereta dan rumahnya, stasiun. Riuh rendah petugas kereta mengumumkan kereta mana yang akan sampai dan kereta mana yang akan pergi. Setiap stasiun punya cerita sendiri-sendiri. Ada yang hanya sebagai persinggahan, ada pula yang sebagai pemberhentian terakhir. Ada yang dilintasi kereta jarak jauh, ada pula yang menjadi tempat naik turun penumpang krl.
Ah, krl yang punya banyak sekali cerita namun tak sombong untuk membaginya. Cerita bapak dan anak perempuannya selepas berkeliling museum di hari Minggu. Cerita seorang ibu dan anaknya yang masih balita pulang ke Bogor di hari Jumat sore. Atau ibu-ibu yang membawa barang banyak sekali dari Tanah Abang. Ada juga cerita tentang perempuan yang hampir terjepit pintu kereta karena nyaris terlambat, ya itu aku.
Aku senang berada di stasiun. Sebab semua orang memiliki tujuannya. Ada yang menunggu krl ke Pondok Cina di peron 5, ke Manggarai di peron 2, atau Bekasi di peron 4. Ada pula yang harus lari-lari dari peron 6 ke loket masuk Stasiun Pasar Senen karena kereta jarak jauhnya segera berangkat. Atau yang terpaksa menyambung naik ojek dari Gang Sentiong ke Pasar Senen karena stasiun besar itu hanya dilewati saja.
Aku rindu kereta cepat yang menyambungkan beberapa kota dalam satu lintasan rel. Membuat yang jauh terasa dekat. Yang
fana
terasa
ada.

Comments

Popular posts from this blog

[Review] Posesif; dan Posesifitas Kita

Mungkin review film ini lumayan telat ya, karena film ini sudah tiga minggu nangkring di bioskop. Dan udah dapet tiga piala citra! Dua darinya untuk aktris dan pemeran pendukung pria, sementara yang satunya untuk sutradara. Niat nontonnya udah lama, cuma baru ada duit kesempatan kemarin huhu. Disclaimer lagi ya, review  film ini murni datang dari bangku penonton. Bukan dari kacamata kritikus film maupun ahli psikologi yang membantah premis-premis dalam film ini. - Baik, kita mulai dari alasanku menonton film ini di bioskop. Awalnya, aku tahu keberadaan film ini dari iklan trailernya yang wara-wiri di homepage  Youtube ku. First impression setelah nonton trailer -nya, adalah soundtrack -nya bagus, hehehe. Selain itu juga silver line  ceritanya boleh juga. Maka, jadilah hari Kamis yang berbahagia itu aku nonton sendirian di bioskop. Jujur saja, aku adalah penonton yang malas menonton film remaja di bioskop. Alasannya sederhana, aku merasa bahwa inti cerita fi...

Asimtot

Selamat pagi! Bagaimana tidurmu? Semoga tidak seperti tidurku. Beberapa hari ini aku selalu "pingsan" tertidur sekitar pukul 8 malam dan terbangun di dini hari. Jika ada beberapa orang yang mempunyai rutinitas sebelum tidur seperti membaca buku, cuci muka cuci tangan cuci kaki, dan lain-lain, aku juga punya. Beberapa malam terakhir rutinitas sebelum tidurku adalah menangis. Tidak pernah tidak tidur tanpa mata yang sembab, basah karena air mata. Begitu pula ketika aku bangun, beberapa menit kemudian mataku akan kembali basah. Iya, aku sedang sedih karena  satu dan lain hal yang lebih baik tidak aku jelaskan di sini. Cukup aku simpan sendiri saja. Jika ada orang bertanya pasti mereka menduga ini ada hubungannya dengan pacarku. Ya, memang ada. Apakah kami bermasalah? Tidak. Aku hanya merasa hubungan kami seperti asimtot; garis lurus yang didekati kurva lengkung dengan jarak yang semakin lama mendekati nol namun tidak pernah bersinggungan. Hanya mendekati dan tidak pernah bers...

Staf Peneliti, Toko Bunga, dan Skripsi

"Mas, aku mau daftar ini deh, hehe untuk mengisi waktu luang kalau kamu tinggal ke Ausi" Waktu itu bulan Januari, aku nge- share  postingan di Line tentang lowongan jadi staf peneliti di suatu pusat studi di univ sebelah. Kebetulan waktu itu juga udah mau ditinggal Mas Faiz yang bulan Februari berangkat ke Australia buat sekolah lagi. Terus karena selama ini aku sangat tergantung sama Mas Faiz (maksudnya apa-apa sama Mas Faiz) daripada aku jobless  mending aku cari-cari kesibukan. "Tapi itu kan pusat studi HTN, kamu kan perdata" Yash. Kebetulan pusat studi yang mau aku lamar (cie) itu adalah pusat studi hukum konstitusi, yang mana berbeda 180 derajat sama konsentrasi waktu kuliah. Waktu itu ya mau iseng-iseng aja gitu nyoba daftar. Kalau keterima ya alhamdulillah, kalau nggak ya udah memang bukan rezeki. Akhirnya berangkat lah aku nganterin berkas pendaftaran di hari Jumat barokah. Ternyata bangunan tempat pusat studi yang aku tuju itu bangunan kuno yang te...