Dari semua moda transportasi yang pernah kunaiki, hanya kereta yang berkesan bagiku. Kereta tidak seperti mobil yang bisa berhenti berjam-jam lamanya di lampu merah. Kereta juga tidak sama dengan pesawat, meski lebih lambat kau akan melihat pemandangan indah dari dekat.
Aku rindu kereta dan rumahnya, stasiun. Riuh rendah petugas kereta mengumumkan kereta mana yang akan sampai dan kereta mana yang akan pergi. Setiap stasiun punya cerita sendiri-sendiri. Ada yang hanya sebagai persinggahan, ada pula yang sebagai pemberhentian terakhir. Ada yang dilintasi kereta jarak jauh, ada pula yang menjadi tempat naik turun penumpang krl.
Ah, krl yang punya banyak sekali cerita namun tak sombong untuk membaginya. Cerita bapak dan anak perempuannya selepas berkeliling museum di hari Minggu. Cerita seorang ibu dan anaknya yang masih balita pulang ke Bogor di hari Jumat sore. Atau ibu-ibu yang membawa barang banyak sekali dari Tanah Abang. Ada juga cerita tentang perempuan yang hampir terjepit pintu kereta karena nyaris terlambat, ya itu aku.
Aku senang berada di stasiun. Sebab semua orang memiliki tujuannya. Ada yang menunggu krl ke Pondok Cina di peron 5, ke Manggarai di peron 2, atau Bekasi di peron 4. Ada pula yang harus lari-lari dari peron 6 ke loket masuk Stasiun Pasar Senen karena kereta jarak jauhnya segera berangkat. Atau yang terpaksa menyambung naik ojek dari Gang Sentiong ke Pasar Senen karena stasiun besar itu hanya dilewati saja.
Aku rindu kereta cepat yang menyambungkan beberapa kota dalam satu lintasan rel. Membuat yang jauh terasa dekat. Yang
fana
terasa
ada.
Comments
Post a Comment